16 April 2010

Adakah anda faham Islam sebagaimana Abu Jahal faham Islam?

Pelik bukan, mendengarkan tajuk artikel ini. Benar, Abu Jahal dan Abu Sufyan (ketika masih belum terima Islam) mungkin sekali memahami Islam lebih daripada kita ini yang telah bershahadah dan mengaku diri ini sebagai seorang Muslim.

Pelik bukan, bagaimana dua orang tokoh penentang Islam boleh sahaja memahami Islam ini dalam konteks untuk menerimanya. Sehinggakan mereka menjadi penentang yang amat tegar dan penzalim terhadap ummat Islam yang terawal.

Dengan ini saya bawakan dua buah kisah yang amat menarik, yang mungkin sekali membuktikan betapa mereka ini memahami Islam itu.

Kisah Abu Jahal

Abu Jahal nama sebenarnya adalah Amr Ibn Hisyam. Dia merupakan pemimpin arab jahiliyah yang terkenal. Digelar Abu Jahal kerna kejahilan nya terhadap Islam dan kerana kejahilannya itu dia menentang. Bukan lah maksudnya dia jahil itu dia tidak mengetahui tetapi dia mengetahui dakwah Rasul itu, memahaminya, tetapi menentang dengan cukup tegar sekali.

Dia juga digelar sebagai Abu Hakam; dimana gelaran ini membawa maksud seorang yang memiliki kebijaksanaan (father of wisdom).

Jadi bagaimana kita hendak katakan yang seorang yang digelar sebagai 'father of wisdom' ini tidak memahami dua kalimat arab yang mempunyai makna tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasullullah.

Abu Jahal merupakan seorang arab bahkan digelar dengan gelaran Abu Hakam, maknanya dia ini pastinya seorang yang arif dalam hal-hal bahasa sebagaimana seorang hakim memahami bahasa perundangan. Tetapi kenapa tetap juga ditolak Islam itu mentah-mentah bahkan menentang dengan penuh tegar dan dahsyat?

Diceritakan suatu ketika Ar-Rasul berdakwah kepada kaum kerabatnya dengan mengajak kepada tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah, maka berdiri dengan lantangnya Abu Jahal ini dengan berkata,

"Jika itu kau bawakan kepada kami wahai Muhammad, maka kau telah melancarkan perang terhadap seluruh jazirah Arab tidak kira dengan orang arab atau bukan arab!".

Lihat saudaraku, seiman dengan ku, kenapa kah kalimah yang kita lihat sebagai kalimah yang mudah ini boleh menyebabkan orang seperti Abu Jahal itu memerangi Muhammad SAW?

KENAPA KALIMAH YANG SERINGKALI KITA SEBUTKAN DAN LAFAZ SETIAP HARI SEPERTI TIADA APA-APA INI DI FAHAMI OLEH ABU JAHAL SEHINGGA DIA MENENTANG DENGAN PENUH TEGAR?

Maka tidak kah kita terfikir APAKAH MAKSUD SHAHADAH ITU SATU PERSATU? Dari makna kesaksian kepada maksud ilah kepada mengenal siapa itu Allah sehingga kepada mengakui dan mengenal apa itu Rasul dan siapakah Muhammad itu sebagai Rasul, sebagaimana difahami oleh Abu Jahal?

Kisah Abu Sufyan

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa Abu Sufyan bin Harb bercerita kepadanya, bahwa Heraclius (Herclius, Raja Rumawi Timur yang memerintah tahun 610 - 630 M) berkirim surat kepada Abu Sufyan menyuruh ia datang ke Syam bersama kafilah saudagar Quraisy (Quraisy, nama suku bangsawan tinggi di negara Mekkah).

Waktu itu Rasullah saw, sedang dalam perjanjian damai dengan Abu Sufyan dan dengan orang-orang kafir Quraisy (Perjanjian damai, yaitu Perjanjian Hudaibiyah yang dibuat tahun 6 H). Mereka datang menghadap Heraclius di Ilia (Ilia, yaitu Baitul Maqdis (Jerusaalem)) terus masuk ke dalam majlisnya, dihadapi oleh pembesar-pembesar Rumawi.

Kemudian Heraclius Memanggil orang-orang Quraisy itu beserta Jurubahasanya. Ceritanya barangkali panjang maka saya ringkaskan kepada satu perbualan sahaja.

Heraclius: "Apakah yang diperintahkannya kepada kamu sekalian?"
Abu Sufyan: "Dia (Muhammad) menyuruh kami menyembah Allah semata-mata, dan jangan mempersekutukan-Nya. Tinggalkan apa yang diajarkan nenek moyangmu! Disuruhnya kami menegakkan Shalat, berlaku jujur, sopan (teguh hati) dan mempererat persaudaraan!"

Lihat, Abu Sufyan memahami apa yang dibawa Ar Rasul, yakni shahadah itu. Tetapi kenapa ketika itu dia tidak mahu terima Islam? Apa yang ada sebenarnya dalam kalimat yang kita lihat sebagai mudah itu sehingga Abu Jahal memeranginya dan kaisar romawi begitu ingin tahu terhadapnya?

Apa yang ada pada kalimat itu sehingga kedua tokoh arab itu memahaminya dan menolaknya sedangkan ada yang menerimanya dengan hati terbuka seperti Abu Bakar As Siddiq dan ada yang menerimanya setelah memahaminya walaupun sebelumnya berniat membunuh Ar Rasul seperti Umar Ibn Khattab?

Kalimah shahadah itu merupakan perjanjian yang teguh antara seorang insan dengan penciptanya tanpa perantaraan manusia. Tanpa paderi yang menjadi perantara. Hubungan terus antara manusia dengan Allah. Dimana kita menerima Allah itu sebagai ilah dan Muhammad itu sebagai Rasul Nya?

Apakah ilah itu sehingga kita sebutkan ilah itu sebagai Tuhan? Ilah itu adalah: "Yang diharapkan, Yang ditakuti, Yang diikuti, Yang dicintai" dimana sifat itu difahami dengan sebetulnya.

Di mana kita letakkan syahadah kita?


gambar hiasan

Masalahnya kini kita telah mencipta banyak ilah lain selain Allah secara kita tidak sedar. Saya sebagai remaja ingin memberi contoh, kita punya kekasih hati (orang sarawak panggil gerek) dan kita harapkan dia, kita sayangkan dia sepenuh hati, kita ikut kehendaknya, kita takut kalau dia merajuk atau sedih dan kita cintai dia sepenuh hati kita. Bukankah itu kita telah menciptakan ilah yang lain?!!

Benar, kita senang katakan yang kita mencintai Allah lebih dari segalanya, lebih dari kekasih kita itu. Tetapi adakah iman itu hanya dibuktikan dengan kata-kata kosong sedangkan perlakuan kita tidak menunjukkan dan membuktikan apa yang kita ucapkan bahkan berlawanan dengan apa yang kita katakan cinta kita sepenuhnya kepada Allah???

Dimana sebenarnya kita letakkan Allah itu sebagai ilah dan lebih lagi dimana kita letakkan pengertian kita bershahadah??? Bahkan dalam konteks remaja yang berkasihan dengan lawan sejenisnya itu melakukan maksiat kepada Allah dalam dia berkata dia mencintai Allah lebih dari segalanya. Itu sesuatu yang sangat keji dan menyedihkan.

Mungkin dalam konteks sebagai dewasa, sebagai pekerja, pembaca mungkin boleh berfikir sendiri betapa kita telah mencipta sembahan dan ilah selain Allah. Dimanakah nilai kita ini sebagai seorang yang bershahadah? Adakah kita bershahadah dengan bermain-main? Ataupun kita anggap shahadah itu sebagai kata-kata kosong yang tidak ada harga dan isinya??

Lihat saudara ku, betapa sehingga Abu Jahal itu menentang Islam kerana dia tahu bilamana dia menerima Allah itu sebagai satu-satunya ilah dia perlu dan wajib menolak ilah lain yang telah dia ciptakan seperti kekuasan, kekayaan dan darjat. Bilamana dia memahami maksud ilah itu, dia menentang Islam bahkan melancarkan perang terhadap Islam.

Sesungguhnya Abu Jahal ini benar-benar memahami shahadah itu dan memahami maksud ilah yang sebenar. Adakah kita faham Islam itu sebagaimana Abu Jahal memahaminya, atau lebih teruk lagi??

Fikirkanlah..:

"dan diantara manusia ada yang menyembah selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman amat besar cintanya kepada Allah." 2:165

14 March 2010

kehilangan yang besar !!!

"Sesungguhnya ALLAH menarik ilmu2 di atas dunia ini dengan mematikan ULAMA'...!"

Salam...

Dunia dikejutkan apabila dikhabarkan dengan kematian seorang Ulama besar. Syeikh Muhamed Sayed Tantawi dijemput oleh ALLAH ketika beliau sedang mengadakan lawatan ke Saudi Arab. Menurut sumber beliau diserang sakit jantung.

Berkaliber!

Susuk tubuh yang cukup masyhur nama nye lebih-lebih lagi di arena pentas Keilmuan, meninggal dunia pada usia 82 tahun. March 10 2010 menjadi saksi betapa kami menangisi pemergianmu wahai Ulama. Syeikh merupakan Ulama al-Azhar dan pastinye pandangan beliau merupakan antara pandangan yang sering dijadikan rujukan. (sumber)

Moga ALLAH memanjangkan umur kita untuk menggantikan tempat2 saf2 kekosongan ulama' Islam... Sama kita sedekahkan al-Fatihah...

13 March 2010

14 February 2010

Hukum Rai Valentine dan Jual Bunga

Soalan

Assalamualaikum ustaz,
Benarkah hukum menyambut hari Valentine adalah haram, bagaimana pula hukum menjual hadiah dan bunga kepada pasangan-pasangan bukan Islam dan sebahagian umat Islam yang meraikannya?

JAWAPAN

Asal-usul Valentine
Tindakan mengaitkan pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulu kala. Menurut tarikh kalendar Athens kuno, masa antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.
Di Rom kuno,15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing sebagai sebahagian daripada amalan penyucian, para pendeta Lupercus menyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan berlari-larian di jejalanan kota Roma membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahawa dengan itu mereka akan dikurniakan kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.*
Selain itu, sejarahnya juga berkait dengan fakta di bawah :-
Saint Valentine is a name which is given to two of the ancient "martyrs" of the Christian Church. It was said that there were two of them, or that there was only one, who died in Rome as the result of the persecution of the Gothic leader Claudius, c. 296 CE. In 350 CE, a church was built in Rome on the site of the place where he died, to perpetuate his memory.
When the Romans embraced Christianity, they continued to celebrate the Feast of Love mentioned above, but they changed it from the pagan concept of "spiritual love" to another concept known as the "martyrs of love", represented by Saint Valentine who had advocated love and peace, for which cause he was martyred, according to their claims. It was also called the Feast of Lovers, and Saint Valentine was considered to be the patron saint of lovers.
One of their false beliefs connected with this festival was that the names of girls who had reached marriageable age would be written on small rolls of paper and placed in a dish on a table. Then the young men who wanted to get married would be called, and each of them would pick a piece of paper. He would put himself at the service of the girl whose name he had drawn for one year, so that they could find out about one another. Then they would get married, or they would repeat the same process again on the day of the festival in the following year.
The Christian clergy reacted against this tradition, which they considered to have a corrupting influence on the morals of young men and women. It was abolished in Italy, where it had been well-known, then it was revived in the eighteenth and nineteenth centuries, when in some western countries there appeared shops which sold small books called "Valentine's books", which contained love poems, from which the one who wanted to send a greeting to his sweetheart could choose. They also contained suggestions for writing love letters.
(The above quotation is excerpted, with slight modifications, from www.Islam-qa.com)

@}---~--{@

Justeru, secara ringkasan saya boleh simpulkan seperti berikut :-
1) Kita hanya boleh merayakan perayaan yang diiktiraf oleh Islam iaitu 'Idil Fitri dan 'Idil Adha.
Nabi SAW bersabda :
(إن لكل قوم عيدا وإن هذا عيدنا)
Ertinya : Sesungguhnya bagi setiap kaum itu perayaan masing-masing, dan ini (IdilFitri dan Idiladha) adalah perayaan kita" ( Riwayat AL-Bukhari, 952 ; Muslim, 1892)
Justeru, sebarang perayaan yang disambut oleh umat Islam mestilah terhad kepada dua perayaan ini sahaja.
Bagaimanapun, jika sesuatu majlis, keraian dan sambutan itu dianjurkan bukan atas asas atau nama agama serta tiada kaitan dengannya bahkan dibuat atas dasar adat semata-mata, ianya boleh dan harus diraikan dengan syarat sambutannya tidak diserapi apa jua unsur maksiat dan syirik. Sebagai contoh sambutan kemerdekaan Negara, sambutan ulangtahun penubuhan sesebuah syarikat dan sebagainya. Cuma ia bukanlah disambut sebagai hari raya ketiga atau keempat, tetapi hanya sebagai majlis keraian setaraf dengan majlis perkahwinan dan sepertinya sahaja.
Ini bermakna, setiap tujuan dan asal usul perayaan itu perlulah disemak. Maka jika disemak perayaan Valentine ini. Ternyata ia berasal dari cerita dongeng, karut dan syirik berkaitan dewa dan sebagainya. Selain daripada asal usul, cara dan kaedah implementasnya juga mesti dilihat, jika secara adatnya ia disambut dengan dosa dan maksiat. Ia sekali lagi dilarang di atas dasar tersebut pula.
2) Tidak harus pula meniru orang kafir dan ahli maksiat dalam meraikan majlis yang dianjurkan.
Imam Ibn Taymiah dan Ibn Qayyim telah menyebut bahawa telah Ijma' (sepakat keseluruhan Ulama) melarang penyerupaan dalam meraikan perayaan agama ( atas asas agama) selain Islam. ( Iqtidha, 1/454 ; Ahkam Ahli Zimmah, 2/722)
3) Islam tidak mengiktiraf hari kasih sayang. Kasih sayang dalam Islam bersifat universal, tidak dibatasi waktu dan tempat dan tidak dibatasi oleh objek dan motif. Hal ini sesuai dengan hadis :
"Cintailah saudara seislam seperti kamu mencintai dirimu sendiri." (Riwayat Bukhari).
Islam sangat melarang keras untuk saling membenci dan bermusuhan, namun sangat menjunjung tinggi akan erti kasih sayang terhadap umat manusia.
Rasulullah saw. bersabda : "Janganlah kamu saling membenci, berdengki-dengkian, saling berpalingan, dan jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Juga tidak dibolehkan seorang muslim meninggalkan (tidak bertegur sapa) terhadap saudaranya lebih dari tiga hari" (Muslim)
Kasih sayang dalam Islam diwujudkan dalam bentuk yang nyata seperti silaturahim, menjenguk yang sakit, meringankan beban tetangga yang sedang ditimpa musibah, mendamaikan orang yang berselisih, mengajak kepada kebenaran (amar ma'ruf) dan mencegah dari perbuatan mungkar.
4) Sambutan hari Valentine hari ini menjadi semakin terkeji apabila ia menjurus kepada perlakuan maksiat, mengadaikan ‘dara' kepada kekasih yang bernafsu ‘syaitan' dan dengan perlakuan seks bebas yang kononnya bagi membuktikan 'ketulenan' cinta seseorang kepada kekasihnya.
5) Islam juga melarang umatnya dari terlibat, duduk serta bersekongkol dalam majlis yang mempersendakan Islam dan bercanggah dengannya. Ini dari firman Allah yang bererti :

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللّهِ يُكَفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُواْ مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ إِنَّ اللّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

"Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam" ( An-Nisa : 140 )
Diriwayatkan dari Umar r.a. bahwa dia pernah mendengar Rasulullah s,a.w. bersabda:
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah duduk pada suatu hidangan yang padanya diedarkan arak." (Riwayat Ahmad)
Maka majlis arak yang haram itu adalah sama hukumnya dengan majlis Valentine yang mana sumber, asal usul dan cara pelaksanaannya yang terdedah kepada pelbagai jenis maksiat. Tidak harus sama sekali untuk menghadiri majlis sempena Valentine di mana-mana jua.
"Jadi adakah pergi shopping sempena 'sale' hari Valentine juga salah?
Jawabnya, sekadar membeli belah ia tidak salah, namun TIDAK DIBENARKAN menyertai sesuatu PERHIMPUNAN, SAMBUTAN KHAS kerana Valentine seperti majlis Konsert, Nyanyian dan sepertinya.
6) Hukum memberikan hadiah sempena hari Valentine juga adalah menjadi haram berdasarkan kaedah dari firman Allah :
"Janganlah kamu bantu membantu dalam perkara dosa dan permusuhan".


@}---~---{@

Bagaimanapun hukum menjual bunga sahaja, ia tidak kurang dari kategori jualan yang syubhah, makruh atau haram khas di hari Valentine.
Diriwayatkan, ada seorang laki-laki yang memberi hadiah satu bekas arak kepada Nabi s.a.w., kemudian Nabi memberitahu bahwa arak telah diharamkan Allah. Orang laki-laki itu bertanya:
Lelaki : Bolehkah saya jual?
Nabi : Zat yang mengharamkan meminumnya, mengharamkannya juga menjualnya.
Lelaki : Bagaimana kalau saya hadiahkan raja kepada orang Yahudi?
Nabi : Sesungguhnya Allah yang telah mengharamkan arak, mengharamkan juga untuk dihadiahkan kepada orang Yahudi.
Lelaki : Habis, apa yang harus saya perbuat?
Nabi : Tuang saja di dalam parit air.
(Al-Humaidi dalam musnadnya)
Justeru, kita dapat melihat bahawa benda yang haram, maka haram juga dijualnya mahupun dihadiahkan. Dalam hal menjual bunga, ia juga boleh menjadi syubhah di hari Valentine seperti ini, kerana diketahui ianya dibeli khas untuk mearikan Valentine yang haram. Seperti juga hukum menjual anggur kepada tukang buat arak yang telah diketahui. Ia tidak dibenarkan dalam Islam menurut pendapat yang terkuat.
Para ulama juga menyatakan LARANGAN untuk saling mengirim ucapan Valentine, cinta dan kasih bersempena hari itu. Perlu dianggapkan hari Valentine itu tidak wujud dan ia adalah sebuah hari biasa sahaja.

28 December 2009

Hijrah, ke mana kamu berhijrah wahai ummah??

1431H. Macam-macam orang ucap, itu dan ini. Semuanya seputar azam baru di tahun yang baru. Berniat hendak mejadi lebih baik, berniat untuk mempertingkatkan diri. Tetapi, semua ini hanya akan menjadi seperti debu sahaja, andai ia dilakukan semata-mata kerana melepasi sebuah tahun.

1 Muharram, 1001 azam baru muncul dan wujud.

1 Januari, sekali lagi 1001 azam baru muncul.

Namun, apakah azam-azam ini diiringi dengan perancangan? Atau sebut-sebutan dari omongan? Ke arah mana kita berhijrah hakikatnya?

Menjadi hamba Ilahi Yang Berkuasa, atau hakikatnya berhijrah dalam lingkungan perhambaan di dalam dunia juga?

Ke arah mana?



Iman terjemahannya amal, cita-cita terjemahannya perancangan.

Amat pelik untuk saya, orang-orang berazam tetapi tidak pula merancang cara untuk menggapai azamnya. Begitulah juga manusia-manusia yang sibuk bercakap berkenaan Palestin, tetapi tiada perancangan rapi untuk membebaskannya.

Kita sudah penat dengan omongan kosong.

Dunia tidak akan tertawan hanya dengan bicara. Sebuah negara hanya bisa ditakluk dengan usaha. Bukan usaha semberono, tetapi usaha yang penuh dengan perancangan yang bersungguh-sungguh.

Merancang adalah bukti kita punya matlamat yang jelas. Kita nampak ke mana kita hendak berakhir, apa yang kita mahu, dan apa yang kita hendak gapai, maka kita merancang, langkah demi langkah agar kita mampu mencapai apa yang kita harapkan.

Di sinilah baru berlakunya peningkatan. Kita tahu di mana kita hendak berehat, kita sedar di mana kita kejatuhan, dan kita akan nampak apa yang perlu kita muhasabahkan. Dengan perancangan, apabila kita tiba ke titik-titik tertentu, kita akan mampu menaik secara berkadar terus dengan kehidupan, bukannya turun dan naik dengan mengikut keadaan.

Apakah kita merancang wahai diri yang kini menyatakan 1001 azam?



Dunia bukan untuk bermain-main Dunia ladang akhirat.

Kita semua tahu. Setiap amal baik dan buruk akan dihitung walau sebesar zarah. Kita semua tahu. Maka dengan pengetahuan kita ini, apakah kita menyangka dunia ini boleh kita lalui dengan bermain-main sahaja?

Kita tahu hari ini ummat Islam tertindas, kita sedar hari ini musuh-musuh Allah amat hebat, kita nampak betapa kita hari ini lemah, kita faham betapa jauhnya kita hari ini dengan Allah SWT, maka apakah yang telah kita usahakan?

Adakah cukup dengan kata-kata dan penulisan?

“Salam ma’al hijrah, semoga lebih baik”

“Semoga meningkat”

“Harap tahun ini lebih baik”

Kita sebut dengan kefahaman dan terjemahan amal, atau sekadar mengisi ruang kegembiraan satu sambutan? Kita hakikatnya mahu, setiap perbuatan kita, gerak geri kita memberikan kesan kepada pembangunan ummah. Kita tidak mahu kehidupan yang sia-sia.

Kita tidak hadir ke dunia ini untuk hanya bermain-main sahaja.



Lihatlah ke arah mana mereka berhijrah.

Menelusuri kisah hijrah para sahabat, pasti kita melihat betapa kita merentas tahun hijrah ini hanya dengan bermain-main sahaja.

Hijrah di dalam Islam punya makna yang besar. Bukan merentas tahun, tetapi merentas sahara untuk menyelamatkan iman. Bagaimana pula mereka berhijrah? Adakah dengan segala kemewahan? Tidak.

Suhaib Ar-Rumi RA, seoran hartawan yang terkenal dengan kekayaannya. Awalnya dia berhijrah dengan seluruh hartanya. Di tengah perjalanan, dia berjaya ditahan pihak Musyrikin Makkah. Mereka hendak membawanya pulang, menghalangnya daripada meneruskan hijrah.

Lantas Suhaib Ar-Rumi berkata: “Apakah kalau aku tinggalkan semua hartaku di sini, maka kamu akan membenarkan aku pergi?”

Dan dia meninggalkan seluruh hartanya. Saya ulang, dia meninggalkan seluruh hartanya.

Untuk apa?

Untuk hijrahnya kepada Allah SWT, untuk menyelamatkan keimanannya. Dia sanggup mengorbankan seluruh hartanya. Kerna dia jelas, dia berhijrah ke arah Allah SWT Yang Maha Kaya, Yang Berkuasa Atas Segala-galanya.

Abdurrahman bin Auf, seorang lagi hartawan terkenal. Dia awal-awal lagi bergerak keluar dari Makkah dengan sehelai sepinggang. Langsung tidak membawa hartanya. Sehingga di Madinah terpaksa memulakan perniagaannya daripada aras bawah semula. Begitu juga hartawan lain seperti Abu Bakar, Uthman dan lain-lain yang mengikuti Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sendiri bersabung nyawa di dalam peristiwa hijrah ini. Begitu juga Saidina Ali bin Abu Talib RA yang sanggup menggantikan Rasulullah SAW di kamar baginda.

Pernahkah anda tertanya-tanya, atas dasar apakah mereka sanggup berkorban sedemikian rupa?

Kerana mereka benar-benar jelas akan penghijrahan mereka.


Mereka berhijrah kepada Allah SWT.

Keimanan mereka, keyakinan mereka membuatkan mereka sanggup mengorbankan segalanya, asalkan penghijrahan mereka kepada Allah SWT itu berjalan lancar.

“Bahawa sesungguhnya setiap amalan itu bergantung kepada niat, dan bahawa sesungguhnya bagi setiap orang apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya menuju kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Barangsiapa yang hijrahnya kerana dunia yang dia mahu mencari habuannya, atau kerana seorang perempuan yang dia mahu kahwininya, maka hijrahnya ke arah perkara yang ditujuinya itu.” Riwayat Bukhari dan Muslim.

Maka, apakah yang telah kita korbankan, andai benar penghijrahan kita kepada Allah SWT?

Atau sebenarnya, hijrah kita bukannya kepada Allah SWT, sebab itu kita tidak mengorbankan apa-apa? Sebab itulah kita tidak merancang apa-apa?

Jika benar, maka kita ini tidak berhijrah sebenarnya.



Penutup: Tiada Lagi Hijrah Selepas Itu, Selain Perjuangan Ke Arah Kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda pada hari pembukaan kota Makkah:

“Tiada lagi Hijrah selepas pembukaan ini kecuali kerana jihad dan niat yang baik, dan sekiranya diperintahkan supaya keluar untuk berjihad dan melaksanakan kebaikan, maka keluarlah” Riwayat Bukhari.

Maka bergeraklah kepada kebaikan, jangan lengah. Bergerak dengan sistematik tanpa boncah. Keraskanlah diri menghadapi segala ujian agar tidak tergoncang. Korbankan apa yang patut dikorbankan, kaut apa yang patut dikaut.

Kenapa kita mesti redha dengan diri kita penuh dosa hari ini? Kenapa kita mesti rasa tidak mengapa dengan kelemahan kita hari ini? Kenapa kita mesti tunduk pada kezaliman dan kehinaan dunia kepada kita hari ini?

Maka bangkitlah, ubah segalanya, bermula dengan diri sendiri.

Jangan sekali mengungkap berubah itu, berubah ini, meningkat itu, meningkat ini, dengan kalam-kalam kosong tanpa perancangan. Kita tidak mahu bermain-main, kita bukan hamba tradisi. Kita hamba Ilahi.

Bergeraklah. Bergerak dengan serius.

Berhijrahlah, berhijrah dengan perancangan dan usaha yang tulus.


27 December 2009

Berapa lama anda mampu hafaz 30 juzu'???

Kita mampu untuk menghabiskan hafalan Al Quran secara keseluruhan(dengan izin Allah s.w.t). Tempoh masa untuk menghabiskan hafalan 30 juzu' Al Quran bergantung kepada kadar kemampuan seseorang menghafal beberapa jumlah ayat sehari sebagaimana jadual berikut :


"Sesungguhnya Kami(Allah) menurunkan peringatan(Al Quran) dan pasti Kami melindunginya(daripada kepalsuan)" Surah al Hijr : 9

"Sebaik-baik kamu adalah mereka yang belajar Al Quran dan mengajarkannya" - Hadia riwayat Imam Bukhari.

"Bacalah Al Quran, sesungguh ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat kepada pembacanya" - Hadis riwayat Imam Muslim.

"Sesungguhnya orang yang tidak terdapat dalam rongga badannya sesuatu daripada Al Quran adalah seperti rumah yang roboh" - Hadis riwayat Imam Tarmizi.

Budaya Membaca Orang Islam Lapuk??

Ungkapan “membaca jambatan ilmu” sering kita dengar. Perkataan ‘iqra’ yang bermaksud bacalah merupakan perkara sinonim dalam diri kita sebagai umat Islam. Namun, hakikatnya sejauh mana kita menghayati perkara ini.

Mengimbau kembali sejarah silam kita akan mendapati bahawa Islam telah mencapai zaman kegemilangannya hasil daripada perkembangan pesat dalam bidang keilmuan. Perkembangan pesat wujud akibat semangat suka membaca dan cintakan ilmu dalam diri umat Islam pada zaman itu sehingga lahir ramai ulama’ yang pakar dalam bidang agama, sains, dan teknologi dan natijahnya umat Islam pada masa itu dipandang tinggi dan digeruni oleh umat-umat lain di dunia.

Marcapada, umat Islam pada zaman ini jelas berbeza dengan umat Islam pada masa dahulu. Kita pada masa ini dianggap sebagai umat yang paling hina dan boleh diperlakukan sesuka hati oleh orang kafir selain kita dipaksa mengikut telunjuk mereka dalam segala bidang tidak kira politik, sosial , dan ekonomi yang memang jelas bertentangan dengan syariat Islamiyyah.

Secara peribadinya saya berpendapat bahawa situasi ini berlaku disebabkan sikap individu muslim sendiri yang semakin jauh daripada amalan membaca dan ilmu pengetahuan. Kita lihat sendiri fenomena di negara kita di mana orang Melayu Islam khususnya tidak suka atau jarang sekali membaca sehinggakan terpaksa diadakan kempen untuk menggalakkan kita membaca. Kempen ini tidaklah salah tetapi berdasarkan pengalaman saya di England dahulu, tidak pernah wujud kempen membaca kerana rakyat di sana boleh dikatakan membaca buku hampir setiap hari manakala kita di sini ada yang hanya membaca sekali dalam sebulan (tidak termasuk buku akademik).

Kanak-kanak di sana memang telah dididik sejak kecil untuk membaca di mana perpustakaan awam disediakan oleh kerajaan di merata tempat dan mereka digalakkan meminjam sebanyak 14 buah buku seorang untuk tempoh seminggu.

Selain itu, di sekolah pula para pelajar diwajibkan untuk membuat laporan tentang sebuah buku yang dibaca setiap minggu. Program-program ini bukan hanya berlaku di sesetengah tempat sahaja tetapi di seluruh negara kerana saya berkesempatan untuk tinggal di beberapa tempat yang berbeza ketika di sana dan mendapati terdapat persamaan tentang budaya membaca rakyat di sana yang memang umum diketahui majoritinya adalah Kristian.

Satu perkara lagi, membaca merupakan amalan orang Barat di mana ibu bapa akan membacakan sebuah buku untuk anak mereka sebelum tidur. Perkara di atas saya kira berlainan dengan budaya membaca di negara-negara Islam khususnya Malaysia.


Jelaslah umat Islam di dunia memang jauh ketinggalan berbanding Barat berkaitan semangat membaca. Tidak hairanlah sekarang ini kita dijajah oleh mereka dan kita tidak mampu berbuat apa-apa disebabkan semangat suka membaca pada masa ini wujud dalam diri mereka dan telah hilang dalam diri kita, umat Islam.

Saya ingin menyeru kepada umat Islam sekalian agar mengingati kembali wahyu pertama yang diturunkan kepada nabi Muhammad iaitu ‘bacalah’. Sedar atau tidak budaya membaca memang telah lama diamalkan oleh kita iaitu amalan membaca al-Quran tetapi janganlah kita hanya sekadar membacanya tetapi tidak memahaminya dan terus menyebabkan kita semakin ke belakang. Sesungguhnya jika kita benar-benar menghayati bacaan al-Quran kita, saya yakin kita mampu mengembalikan zaman keagungan tamadun Islam yang terkenal pada masa dahulu.

26 December 2009

tudung labuh...

Izinkan diri ini untuk meluahkan kata-kata, Bukan kata-kata kesat, Bukan kata sindirian, Bukan kata kosong.

Perkara ini nampak seperti hal yang remeh, tetapi bagi ana ini merupakan sesuatu yang amat mendalam dan agak menikam kalbu.. Apabila diutarakan mengenai tudung labuh, walaupun bukan tudung bulat pun, apabila tudung itu sudah lebih besar daripada orang lain, pastinya persepsi masyarakat akan turut berubah seiring dengan perubahan tudung tersebut.



Mengapa persoalan ini diutarakan? Apa selalunya yang terlintas dalam diri masing-masing apabila melihat seorang perempuan memakai baju kurung berserta dengan tudung yang lebih labuh daripada perempuan-perempuan yang lain? Pastinya tanggapan pertama ialah; perempuan ini perempuan yang baik, perempuan yang sopan, perempuan yang tahu menjaga adab dirinya.

Namun adakah kita sedar, dalam majoriti kaum wanita yang dikatakan bertudung labuh yang nampaknya sopan itu, terdapat sebilangan kecil daripada mereka ini yang sebenarnya sedang menconteng arang ke muka wanita-wanita yang lain.

Mengapa ana berkata begini? Tentu saja anda semua pernah dengar perkataan ini, “Alah tak payahlah nak poyo-poyo pakai tudung labuh. Ingat semua orang yang tudung labuh ni baik sangat ke? Kadang-kadang yang tudung labuh ni lagi teruk daripada tudung kecil!” pasti pernahkan? Bagi yang baru pertama kali mendengarnya, pasti hati berasa panas sahaja mendengar perkataan sebegitu yang diluahkan. Namun, itulah hakikat.

Kebanyakkan wanita sekarang ini, maaf untuk menegur, tidak berakhlak seperti yang tertera pada pakaiannya yang labuh. Berdating sana sini, bermesejan lelaki itu ini, berhuha-huha dengan lelaki ajnabi, berkoling-koling, berkapelan islamik kononnya, cakap buang masa, menggedik sana sini(maaf kalau ada yang terasa) dan banyak lagi yang mana akhlak tersebut langsung tidak kena pada imej wanita muslimah yang ditonjolkan.

Apabila orang kata tudung labuh pun sama teruk juga, cepat saja naik darah. Sedangkan siapa yang menyebabkan orang lain berfikiran seperti itu? Apabila timbul masalah seperti ini, pastinya orang lain yang mahu bertudung labuh terbantut niatnya melihatkan akhlak wanita bertudung labuh yang lain ini. Kerana nila setitik, rosak susu sebelanga.




Akhirnya timbullah perkataan seperti, “ Aku tak pakai tudung labuh pun, free hair je kot, tapi aku tak adalah macam si polan tudung labuh tu. Harap tudung tu je yang besar, akhlak tak besar pun,”

Ya, memang diakui,yang bertudung labuh juga adalah manusia biasa yang punya keinginan. Tapi bukankah elok jika cara pemakaian kita seiring dengan tudung yang dipakai? Tutup aurat itu merupakan satu kewajipan,menjaga akhlak juga satu kewajipan bagi kita. Mengapa hanya diambil satu perkara sahaja, dan ditinggalkan satu perkara lagi?

sumber : www.iluvislam.com

20 December 2009

SUBMISSION....filem menghina ISLAM




Submission ialah sebuah dokumentari pendek yang dihasilkan oleh seorang 'bekas' muslimah, Ayaan Hirsi Ali dan pengarah Theo van Gogh mengenai layanan buruk islam terhadap wanita.
filem ini menunjukkan wanita yang diseksa, dengan beberapa ayat Al-Quran tertulis pada kulit badan mereka yang mengesahkan mereka diseksa dengan zalim.


++info filem submission++
Edaran : iFILM
Arahan : Theo van Gogh
Skrip : Ayaan Hirsi Ali
Tempoh tayangan : 10 minit
Tahun edaran : 2004
Bahasa : Inggeris
Subtitle : Belanda

Karektor-karektor dalam Submission

Narrator
>Tukang cerita dalam filem ini
>Berpurdah dan berjubah nipis yang menampakkan tubuh badan seolah-olah bogel
>Di perutnya tertulis Al-Fatihah
>Memulakan dan mengakhiri filem dengan sembahyang(dalam keadaan bogel itu)
>Menceritakan kisah 4 orang wanita yang meminta agar Tuhan meringankan penderitaan mereka.

Wanita 1
>Melakukan zina dengan kekasih
>Disebat seratus kali
>Di seluruh badan tertulis ayat Quran larangan zina dan hukumannya

Wanita 2
>Dipaksa berkahwin dengan lelaki yang tidak disukai
>Bergaun pengantin dan tertulis di belakang badannya ayat mengenai wajib mentaati suami dalam apa jua keadaan.

Wanita 3
>Dipukul berulang kali oleh suami
>Lebam dan luka seluruh badan.
>Tertulis ayat mengenai keutamaan lelaki sebagai pelindung wanita.

Wanita 4
>Sentiasa menjaga aurat setiap masa dan mentaati ajaran Islam dengan baik.
>Tetapi dirogol oleh bapa saudara sehingga mengandung.
>Tertulis di atas jubah ayat mengenai tatacara pergaulan sesama saudara dalam Islam.

19 December 2009

Belajar Tanpa Guru Umpama Belajar Dengan Syaitan?

Petikan dari blog Al-Fadhil Ustaz Syed Abdul Kadir Al-Jufri (Pengerusi Fellow MANHAL PMRAM)
Berikut adalah satu persoalan di iluvislam.com:

Assalamualaikum, saya nak tanya. Pak cik saya ada kata ada hadis yang menyatakan belajar tanpa bimbingan guru umpama belajar bersama dengan syaitan. Apa pendapat anda? Saya tak pasti akan kesahihannya dan saya rasa sahih kerana pak cik saya seorang ustaz.

Namun, mungkin ia ada maksud disebaliknya.Minta penjelasan. Terima kasih.

Berikut adalah jawapan saya pula:

Pertamanya menjawab persoalan yang ditimbulkan di awal thread ini. Adakah benar hadis belajar tanpa guru adalah berguru dengan syaitan? Ana katakan, ana tidak pernah menjumpai matan hadis sedemikian dalam kitab-kitab hadis yang muktabar. Ana katakan "tak pernah jumpa", bukan ana katakan ia palsu tau.

Namun begitu para ulamak biasa menyebut kalam ini di dalam kitab-kitab mereka. Ingat satu perkara yang mesti kita iktiqad, ulamak agung silam takkan dengan sengaja menulis sesuatu mengikut hawa nafsu dan meletakkan sesuatu yang mereka anggap salah. Mereka tentu beranggapan kalam tersebut adalah benar. Hormatilah ulamak dan jangan bersikap kurang ajar dengan mereka.

Lebih-lebih lagi dengan kalam yang lebih sahih iaitu "sesungguhnya ilmu itu didapati dengan dipelajari." Imam Syafie pula pernah menyatakan, "sesiapa yang tafaqquh dari perut kitab, maka dia telah kehilangan hukum-hakam". Para ulamak juga menyebutkan, "antara kebodohan terbesar, adalah menjadikan helaian-helaian sebagai syaikh".

Walaupun kenyataan belajar dengan syaitan itu, tidak didapati sahih dari segi sanadnya (jalur riwayat), tapi ia sahih dari segi maknanya (bagi mereka yang melihat dengan hati yang cerah dan bersikap terbuka).

Ia adalah suatu perumpamaan daripada para ulamak untuk memberi peringatan kepada mereka yang suka menjadikan bahan bacaannya sebagai ilmunya. Jangan difahami secara zahir plak ya. Perlu diingat, buku adalah alat sahaja untuk menimba ilmu. Untuk menggunakan alat, perlu kepada yang pakar untuk menunjuk caranya.

Kita lihat hari ini, salah faham terhadap agama, kebanyakannya berasal daripada golongan yang suka membaca tanpa guru, lantas memahami dengan salah dan menyesatkan pula kefahaman orang lain. Lihat sahajalah ajaran-ajaran sesat yang timbul sekarang, kebanyakannya adalah intepratasi dari kitab-kitab yang sahih. Bukankah ini adalah bukti yang cukup jelas betapa syaitan menyesatkan manusia yang membaca dan belajar tanpa berguru?

Buku yang kandungannya penuh dengan Ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis yang kuat pun, boleh disalah fahami lantas menatijahkan kesesatan kepada pembacanya. Oleh kerana itu ulamak zaman berzaman sentiasa menasihati kita agar berjaga-jaga dalam pembacaan buku. Orang yang belajar dengan berguru pun boleh sesat, apatah lagi orang yang tidak belajar dengan guru kan?

Akan tetapi, bukanlah kita menutup terus pintu bacaan kepada Ummat Islam. Malah Ummat Islam sepatutnya menjadi ummat yang paling rajin membaca. Hanyasanya, bacalah buku mengikut tahap kemampuan masing-masing. Kita akan merasa lucu, jika seorang pelajar fizik sekolah menengah, membaca dan membahaskan teori fizik yang ditulis oleh seorang profesor untuk dibahaskan oleh profesor-profesor lain.

Di dalam ilmu agama juga begitu. Tiada masalah untuk kita semua membaca kitab-kitab motivasi agama, sirah para rasul dan sahabat, galakan beribadat dan ancaman terhadap kemaksiatan, dan sebagainya. Namun di sana, ada kitab-kitab yang memerlukan kepada guru yang membimbing. Ada juga yang memerlukan kita membaca, kemudian bertanya kepada guru. Ada juga buku yang boleh dibaca oleh mereka yang sudah mencapai ke tahap pembelajaran yang tertentu. Hukum tak boleh diambil sekadar membaca. Aqidah jauh sekali.

Ini bermakna, memang membaca tanpa berguru itu banyak membawa kesesatan yang disemarakkan lagi oleh syaitan. Namun Islam tetap menggalakkan sikap suka membaca. Islam juga mengajarkan kepada kita adab-adab membaca, cara membaca, apa yang hendak dan boleh dibaca, bila hendak dibaca dan sebagainya, bagi mengelakkan kita menjadi bahan tawa syaitan yang direjam.

Mungkin ada yang menyatakan, saya akan ambil yang benar, dan saya akan tinggalkan mana yang saya ragui. Saya akan ambil mana yang bersumberkan Al-quran dan hadis sahaja. Kita katakan, oleh kerana kita ini masih lagi di tahap "orang awam" dan "pelajar" maka kita sukar untuk membezakan mana yang benar mana yang salah. Takut-takut yang salah itu dikaburi dengan Alquran dan Hadis, lantas kita anggap benar. Maka jadilah kita orang yang sesat dan menyesatkan. Na'uzubillah.

Berkenaan bidang ilmu, dan tulisan seorang yang bukan ahli, dakwah dari seorang businessman dan sebagainya, telah ana tulis di blog lama ana tiga tahun lalu. Rajin-rajinkanlah membaca link di bawah ya:

Bhgn. 1: http://aljoofre.blogdrive.com/archive/87.html
Bhgn. 2: http://aljoofre.blogdrive.com/archive/88.html

Wallahu A'lam.

Sumber: www.aljoofre.iluvislam.com

16 April 2010

Adakah anda faham Islam sebagaimana Abu Jahal faham Islam?

Pelik bukan, mendengarkan tajuk artikel ini. Benar, Abu Jahal dan Abu Sufyan (ketika masih belum terima Islam) mungkin sekali memahami Islam lebih daripada kita ini yang telah bershahadah dan mengaku diri ini sebagai seorang Muslim.

Pelik bukan, bagaimana dua orang tokoh penentang Islam boleh sahaja memahami Islam ini dalam konteks untuk menerimanya. Sehinggakan mereka menjadi penentang yang amat tegar dan penzalim terhadap ummat Islam yang terawal.

Dengan ini saya bawakan dua buah kisah yang amat menarik, yang mungkin sekali membuktikan betapa mereka ini memahami Islam itu.

Kisah Abu Jahal

Abu Jahal nama sebenarnya adalah Amr Ibn Hisyam. Dia merupakan pemimpin arab jahiliyah yang terkenal. Digelar Abu Jahal kerna kejahilan nya terhadap Islam dan kerana kejahilannya itu dia menentang. Bukan lah maksudnya dia jahil itu dia tidak mengetahui tetapi dia mengetahui dakwah Rasul itu, memahaminya, tetapi menentang dengan cukup tegar sekali.

Dia juga digelar sebagai Abu Hakam; dimana gelaran ini membawa maksud seorang yang memiliki kebijaksanaan (father of wisdom).

Jadi bagaimana kita hendak katakan yang seorang yang digelar sebagai 'father of wisdom' ini tidak memahami dua kalimat arab yang mempunyai makna tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasullullah.

Abu Jahal merupakan seorang arab bahkan digelar dengan gelaran Abu Hakam, maknanya dia ini pastinya seorang yang arif dalam hal-hal bahasa sebagaimana seorang hakim memahami bahasa perundangan. Tetapi kenapa tetap juga ditolak Islam itu mentah-mentah bahkan menentang dengan penuh tegar dan dahsyat?

Diceritakan suatu ketika Ar-Rasul berdakwah kepada kaum kerabatnya dengan mengajak kepada tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah, maka berdiri dengan lantangnya Abu Jahal ini dengan berkata,

"Jika itu kau bawakan kepada kami wahai Muhammad, maka kau telah melancarkan perang terhadap seluruh jazirah Arab tidak kira dengan orang arab atau bukan arab!".

Lihat saudaraku, seiman dengan ku, kenapa kah kalimah yang kita lihat sebagai kalimah yang mudah ini boleh menyebabkan orang seperti Abu Jahal itu memerangi Muhammad SAW?

KENAPA KALIMAH YANG SERINGKALI KITA SEBUTKAN DAN LAFAZ SETIAP HARI SEPERTI TIADA APA-APA INI DI FAHAMI OLEH ABU JAHAL SEHINGGA DIA MENENTANG DENGAN PENUH TEGAR?

Maka tidak kah kita terfikir APAKAH MAKSUD SHAHADAH ITU SATU PERSATU? Dari makna kesaksian kepada maksud ilah kepada mengenal siapa itu Allah sehingga kepada mengakui dan mengenal apa itu Rasul dan siapakah Muhammad itu sebagai Rasul, sebagaimana difahami oleh Abu Jahal?

Kisah Abu Sufyan

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa Abu Sufyan bin Harb bercerita kepadanya, bahwa Heraclius (Herclius, Raja Rumawi Timur yang memerintah tahun 610 - 630 M) berkirim surat kepada Abu Sufyan menyuruh ia datang ke Syam bersama kafilah saudagar Quraisy (Quraisy, nama suku bangsawan tinggi di negara Mekkah).

Waktu itu Rasullah saw, sedang dalam perjanjian damai dengan Abu Sufyan dan dengan orang-orang kafir Quraisy (Perjanjian damai, yaitu Perjanjian Hudaibiyah yang dibuat tahun 6 H). Mereka datang menghadap Heraclius di Ilia (Ilia, yaitu Baitul Maqdis (Jerusaalem)) terus masuk ke dalam majlisnya, dihadapi oleh pembesar-pembesar Rumawi.

Kemudian Heraclius Memanggil orang-orang Quraisy itu beserta Jurubahasanya. Ceritanya barangkali panjang maka saya ringkaskan kepada satu perbualan sahaja.

Heraclius: "Apakah yang diperintahkannya kepada kamu sekalian?"
Abu Sufyan: "Dia (Muhammad) menyuruh kami menyembah Allah semata-mata, dan jangan mempersekutukan-Nya. Tinggalkan apa yang diajarkan nenek moyangmu! Disuruhnya kami menegakkan Shalat, berlaku jujur, sopan (teguh hati) dan mempererat persaudaraan!"

Lihat, Abu Sufyan memahami apa yang dibawa Ar Rasul, yakni shahadah itu. Tetapi kenapa ketika itu dia tidak mahu terima Islam? Apa yang ada sebenarnya dalam kalimat yang kita lihat sebagai mudah itu sehingga Abu Jahal memeranginya dan kaisar romawi begitu ingin tahu terhadapnya?

Apa yang ada pada kalimat itu sehingga kedua tokoh arab itu memahaminya dan menolaknya sedangkan ada yang menerimanya dengan hati terbuka seperti Abu Bakar As Siddiq dan ada yang menerimanya setelah memahaminya walaupun sebelumnya berniat membunuh Ar Rasul seperti Umar Ibn Khattab?

Kalimah shahadah itu merupakan perjanjian yang teguh antara seorang insan dengan penciptanya tanpa perantaraan manusia. Tanpa paderi yang menjadi perantara. Hubungan terus antara manusia dengan Allah. Dimana kita menerima Allah itu sebagai ilah dan Muhammad itu sebagai Rasul Nya?

Apakah ilah itu sehingga kita sebutkan ilah itu sebagai Tuhan? Ilah itu adalah: "Yang diharapkan, Yang ditakuti, Yang diikuti, Yang dicintai" dimana sifat itu difahami dengan sebetulnya.

Di mana kita letakkan syahadah kita?


gambar hiasan

Masalahnya kini kita telah mencipta banyak ilah lain selain Allah secara kita tidak sedar. Saya sebagai remaja ingin memberi contoh, kita punya kekasih hati (orang sarawak panggil gerek) dan kita harapkan dia, kita sayangkan dia sepenuh hati, kita ikut kehendaknya, kita takut kalau dia merajuk atau sedih dan kita cintai dia sepenuh hati kita. Bukankah itu kita telah menciptakan ilah yang lain?!!

Benar, kita senang katakan yang kita mencintai Allah lebih dari segalanya, lebih dari kekasih kita itu. Tetapi adakah iman itu hanya dibuktikan dengan kata-kata kosong sedangkan perlakuan kita tidak menunjukkan dan membuktikan apa yang kita ucapkan bahkan berlawanan dengan apa yang kita katakan cinta kita sepenuhnya kepada Allah???

Dimana sebenarnya kita letakkan Allah itu sebagai ilah dan lebih lagi dimana kita letakkan pengertian kita bershahadah??? Bahkan dalam konteks remaja yang berkasihan dengan lawan sejenisnya itu melakukan maksiat kepada Allah dalam dia berkata dia mencintai Allah lebih dari segalanya. Itu sesuatu yang sangat keji dan menyedihkan.

Mungkin dalam konteks sebagai dewasa, sebagai pekerja, pembaca mungkin boleh berfikir sendiri betapa kita telah mencipta sembahan dan ilah selain Allah. Dimanakah nilai kita ini sebagai seorang yang bershahadah? Adakah kita bershahadah dengan bermain-main? Ataupun kita anggap shahadah itu sebagai kata-kata kosong yang tidak ada harga dan isinya??

Lihat saudara ku, betapa sehingga Abu Jahal itu menentang Islam kerana dia tahu bilamana dia menerima Allah itu sebagai satu-satunya ilah dia perlu dan wajib menolak ilah lain yang telah dia ciptakan seperti kekuasan, kekayaan dan darjat. Bilamana dia memahami maksud ilah itu, dia menentang Islam bahkan melancarkan perang terhadap Islam.

Sesungguhnya Abu Jahal ini benar-benar memahami shahadah itu dan memahami maksud ilah yang sebenar. Adakah kita faham Islam itu sebagaimana Abu Jahal memahaminya, atau lebih teruk lagi??

Fikirkanlah..:

"dan diantara manusia ada yang menyembah selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman amat besar cintanya kepada Allah." 2:165

14 March 2010

kehilangan yang besar !!!

"Sesungguhnya ALLAH menarik ilmu2 di atas dunia ini dengan mematikan ULAMA'...!"

Salam...

Dunia dikejutkan apabila dikhabarkan dengan kematian seorang Ulama besar. Syeikh Muhamed Sayed Tantawi dijemput oleh ALLAH ketika beliau sedang mengadakan lawatan ke Saudi Arab. Menurut sumber beliau diserang sakit jantung.

Berkaliber!

Susuk tubuh yang cukup masyhur nama nye lebih-lebih lagi di arena pentas Keilmuan, meninggal dunia pada usia 82 tahun. March 10 2010 menjadi saksi betapa kami menangisi pemergianmu wahai Ulama. Syeikh merupakan Ulama al-Azhar dan pastinye pandangan beliau merupakan antara pandangan yang sering dijadikan rujukan. (sumber)

Moga ALLAH memanjangkan umur kita untuk menggantikan tempat2 saf2 kekosongan ulama' Islam... Sama kita sedekahkan al-Fatihah...

14 February 2010

Hukum Rai Valentine dan Jual Bunga

Soalan

Assalamualaikum ustaz,
Benarkah hukum menyambut hari Valentine adalah haram, bagaimana pula hukum menjual hadiah dan bunga kepada pasangan-pasangan bukan Islam dan sebahagian umat Islam yang meraikannya?

JAWAPAN

Asal-usul Valentine
Tindakan mengaitkan pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulu kala. Menurut tarikh kalendar Athens kuno, masa antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.
Di Rom kuno,15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing sebagai sebahagian daripada amalan penyucian, para pendeta Lupercus menyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan berlari-larian di jejalanan kota Roma membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahawa dengan itu mereka akan dikurniakan kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.*
Selain itu, sejarahnya juga berkait dengan fakta di bawah :-
Saint Valentine is a name which is given to two of the ancient "martyrs" of the Christian Church. It was said that there were two of them, or that there was only one, who died in Rome as the result of the persecution of the Gothic leader Claudius, c. 296 CE. In 350 CE, a church was built in Rome on the site of the place where he died, to perpetuate his memory.
When the Romans embraced Christianity, they continued to celebrate the Feast of Love mentioned above, but they changed it from the pagan concept of "spiritual love" to another concept known as the "martyrs of love", represented by Saint Valentine who had advocated love and peace, for which cause he was martyred, according to their claims. It was also called the Feast of Lovers, and Saint Valentine was considered to be the patron saint of lovers.
One of their false beliefs connected with this festival was that the names of girls who had reached marriageable age would be written on small rolls of paper and placed in a dish on a table. Then the young men who wanted to get married would be called, and each of them would pick a piece of paper. He would put himself at the service of the girl whose name he had drawn for one year, so that they could find out about one another. Then they would get married, or they would repeat the same process again on the day of the festival in the following year.
The Christian clergy reacted against this tradition, which they considered to have a corrupting influence on the morals of young men and women. It was abolished in Italy, where it had been well-known, then it was revived in the eighteenth and nineteenth centuries, when in some western countries there appeared shops which sold small books called "Valentine's books", which contained love poems, from which the one who wanted to send a greeting to his sweetheart could choose. They also contained suggestions for writing love letters.
(The above quotation is excerpted, with slight modifications, from www.Islam-qa.com)

@}---~--{@

Justeru, secara ringkasan saya boleh simpulkan seperti berikut :-
1) Kita hanya boleh merayakan perayaan yang diiktiraf oleh Islam iaitu 'Idil Fitri dan 'Idil Adha.
Nabi SAW bersabda :
(إن لكل قوم عيدا وإن هذا عيدنا)
Ertinya : Sesungguhnya bagi setiap kaum itu perayaan masing-masing, dan ini (IdilFitri dan Idiladha) adalah perayaan kita" ( Riwayat AL-Bukhari, 952 ; Muslim, 1892)
Justeru, sebarang perayaan yang disambut oleh umat Islam mestilah terhad kepada dua perayaan ini sahaja.
Bagaimanapun, jika sesuatu majlis, keraian dan sambutan itu dianjurkan bukan atas asas atau nama agama serta tiada kaitan dengannya bahkan dibuat atas dasar adat semata-mata, ianya boleh dan harus diraikan dengan syarat sambutannya tidak diserapi apa jua unsur maksiat dan syirik. Sebagai contoh sambutan kemerdekaan Negara, sambutan ulangtahun penubuhan sesebuah syarikat dan sebagainya. Cuma ia bukanlah disambut sebagai hari raya ketiga atau keempat, tetapi hanya sebagai majlis keraian setaraf dengan majlis perkahwinan dan sepertinya sahaja.
Ini bermakna, setiap tujuan dan asal usul perayaan itu perlulah disemak. Maka jika disemak perayaan Valentine ini. Ternyata ia berasal dari cerita dongeng, karut dan syirik berkaitan dewa dan sebagainya. Selain daripada asal usul, cara dan kaedah implementasnya juga mesti dilihat, jika secara adatnya ia disambut dengan dosa dan maksiat. Ia sekali lagi dilarang di atas dasar tersebut pula.
2) Tidak harus pula meniru orang kafir dan ahli maksiat dalam meraikan majlis yang dianjurkan.
Imam Ibn Taymiah dan Ibn Qayyim telah menyebut bahawa telah Ijma' (sepakat keseluruhan Ulama) melarang penyerupaan dalam meraikan perayaan agama ( atas asas agama) selain Islam. ( Iqtidha, 1/454 ; Ahkam Ahli Zimmah, 2/722)
3) Islam tidak mengiktiraf hari kasih sayang. Kasih sayang dalam Islam bersifat universal, tidak dibatasi waktu dan tempat dan tidak dibatasi oleh objek dan motif. Hal ini sesuai dengan hadis :
"Cintailah saudara seislam seperti kamu mencintai dirimu sendiri." (Riwayat Bukhari).
Islam sangat melarang keras untuk saling membenci dan bermusuhan, namun sangat menjunjung tinggi akan erti kasih sayang terhadap umat manusia.
Rasulullah saw. bersabda : "Janganlah kamu saling membenci, berdengki-dengkian, saling berpalingan, dan jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Juga tidak dibolehkan seorang muslim meninggalkan (tidak bertegur sapa) terhadap saudaranya lebih dari tiga hari" (Muslim)
Kasih sayang dalam Islam diwujudkan dalam bentuk yang nyata seperti silaturahim, menjenguk yang sakit, meringankan beban tetangga yang sedang ditimpa musibah, mendamaikan orang yang berselisih, mengajak kepada kebenaran (amar ma'ruf) dan mencegah dari perbuatan mungkar.
4) Sambutan hari Valentine hari ini menjadi semakin terkeji apabila ia menjurus kepada perlakuan maksiat, mengadaikan ‘dara' kepada kekasih yang bernafsu ‘syaitan' dan dengan perlakuan seks bebas yang kononnya bagi membuktikan 'ketulenan' cinta seseorang kepada kekasihnya.
5) Islam juga melarang umatnya dari terlibat, duduk serta bersekongkol dalam majlis yang mempersendakan Islam dan bercanggah dengannya. Ini dari firman Allah yang bererti :

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللّهِ يُكَفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُواْ مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ إِنَّ اللّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

"Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam" ( An-Nisa : 140 )
Diriwayatkan dari Umar r.a. bahwa dia pernah mendengar Rasulullah s,a.w. bersabda:
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah duduk pada suatu hidangan yang padanya diedarkan arak." (Riwayat Ahmad)
Maka majlis arak yang haram itu adalah sama hukumnya dengan majlis Valentine yang mana sumber, asal usul dan cara pelaksanaannya yang terdedah kepada pelbagai jenis maksiat. Tidak harus sama sekali untuk menghadiri majlis sempena Valentine di mana-mana jua.
"Jadi adakah pergi shopping sempena 'sale' hari Valentine juga salah?
Jawabnya, sekadar membeli belah ia tidak salah, namun TIDAK DIBENARKAN menyertai sesuatu PERHIMPUNAN, SAMBUTAN KHAS kerana Valentine seperti majlis Konsert, Nyanyian dan sepertinya.
6) Hukum memberikan hadiah sempena hari Valentine juga adalah menjadi haram berdasarkan kaedah dari firman Allah :
"Janganlah kamu bantu membantu dalam perkara dosa dan permusuhan".


@}---~---{@

Bagaimanapun hukum menjual bunga sahaja, ia tidak kurang dari kategori jualan yang syubhah, makruh atau haram khas di hari Valentine.
Diriwayatkan, ada seorang laki-laki yang memberi hadiah satu bekas arak kepada Nabi s.a.w., kemudian Nabi memberitahu bahwa arak telah diharamkan Allah. Orang laki-laki itu bertanya:
Lelaki : Bolehkah saya jual?
Nabi : Zat yang mengharamkan meminumnya, mengharamkannya juga menjualnya.
Lelaki : Bagaimana kalau saya hadiahkan raja kepada orang Yahudi?
Nabi : Sesungguhnya Allah yang telah mengharamkan arak, mengharamkan juga untuk dihadiahkan kepada orang Yahudi.
Lelaki : Habis, apa yang harus saya perbuat?
Nabi : Tuang saja di dalam parit air.
(Al-Humaidi dalam musnadnya)
Justeru, kita dapat melihat bahawa benda yang haram, maka haram juga dijualnya mahupun dihadiahkan. Dalam hal menjual bunga, ia juga boleh menjadi syubhah di hari Valentine seperti ini, kerana diketahui ianya dibeli khas untuk mearikan Valentine yang haram. Seperti juga hukum menjual anggur kepada tukang buat arak yang telah diketahui. Ia tidak dibenarkan dalam Islam menurut pendapat yang terkuat.
Para ulama juga menyatakan LARANGAN untuk saling mengirim ucapan Valentine, cinta dan kasih bersempena hari itu. Perlu dianggapkan hari Valentine itu tidak wujud dan ia adalah sebuah hari biasa sahaja.

28 December 2009

Hijrah, ke mana kamu berhijrah wahai ummah??

1431H. Macam-macam orang ucap, itu dan ini. Semuanya seputar azam baru di tahun yang baru. Berniat hendak mejadi lebih baik, berniat untuk mempertingkatkan diri. Tetapi, semua ini hanya akan menjadi seperti debu sahaja, andai ia dilakukan semata-mata kerana melepasi sebuah tahun.

1 Muharram, 1001 azam baru muncul dan wujud.

1 Januari, sekali lagi 1001 azam baru muncul.

Namun, apakah azam-azam ini diiringi dengan perancangan? Atau sebut-sebutan dari omongan? Ke arah mana kita berhijrah hakikatnya?

Menjadi hamba Ilahi Yang Berkuasa, atau hakikatnya berhijrah dalam lingkungan perhambaan di dalam dunia juga?

Ke arah mana?



Iman terjemahannya amal, cita-cita terjemahannya perancangan.

Amat pelik untuk saya, orang-orang berazam tetapi tidak pula merancang cara untuk menggapai azamnya. Begitulah juga manusia-manusia yang sibuk bercakap berkenaan Palestin, tetapi tiada perancangan rapi untuk membebaskannya.

Kita sudah penat dengan omongan kosong.

Dunia tidak akan tertawan hanya dengan bicara. Sebuah negara hanya bisa ditakluk dengan usaha. Bukan usaha semberono, tetapi usaha yang penuh dengan perancangan yang bersungguh-sungguh.

Merancang adalah bukti kita punya matlamat yang jelas. Kita nampak ke mana kita hendak berakhir, apa yang kita mahu, dan apa yang kita hendak gapai, maka kita merancang, langkah demi langkah agar kita mampu mencapai apa yang kita harapkan.

Di sinilah baru berlakunya peningkatan. Kita tahu di mana kita hendak berehat, kita sedar di mana kita kejatuhan, dan kita akan nampak apa yang perlu kita muhasabahkan. Dengan perancangan, apabila kita tiba ke titik-titik tertentu, kita akan mampu menaik secara berkadar terus dengan kehidupan, bukannya turun dan naik dengan mengikut keadaan.

Apakah kita merancang wahai diri yang kini menyatakan 1001 azam?



Dunia bukan untuk bermain-main Dunia ladang akhirat.

Kita semua tahu. Setiap amal baik dan buruk akan dihitung walau sebesar zarah. Kita semua tahu. Maka dengan pengetahuan kita ini, apakah kita menyangka dunia ini boleh kita lalui dengan bermain-main sahaja?

Kita tahu hari ini ummat Islam tertindas, kita sedar hari ini musuh-musuh Allah amat hebat, kita nampak betapa kita hari ini lemah, kita faham betapa jauhnya kita hari ini dengan Allah SWT, maka apakah yang telah kita usahakan?

Adakah cukup dengan kata-kata dan penulisan?

“Salam ma’al hijrah, semoga lebih baik”

“Semoga meningkat”

“Harap tahun ini lebih baik”

Kita sebut dengan kefahaman dan terjemahan amal, atau sekadar mengisi ruang kegembiraan satu sambutan? Kita hakikatnya mahu, setiap perbuatan kita, gerak geri kita memberikan kesan kepada pembangunan ummah. Kita tidak mahu kehidupan yang sia-sia.

Kita tidak hadir ke dunia ini untuk hanya bermain-main sahaja.



Lihatlah ke arah mana mereka berhijrah.

Menelusuri kisah hijrah para sahabat, pasti kita melihat betapa kita merentas tahun hijrah ini hanya dengan bermain-main sahaja.

Hijrah di dalam Islam punya makna yang besar. Bukan merentas tahun, tetapi merentas sahara untuk menyelamatkan iman. Bagaimana pula mereka berhijrah? Adakah dengan segala kemewahan? Tidak.

Suhaib Ar-Rumi RA, seoran hartawan yang terkenal dengan kekayaannya. Awalnya dia berhijrah dengan seluruh hartanya. Di tengah perjalanan, dia berjaya ditahan pihak Musyrikin Makkah. Mereka hendak membawanya pulang, menghalangnya daripada meneruskan hijrah.

Lantas Suhaib Ar-Rumi berkata: “Apakah kalau aku tinggalkan semua hartaku di sini, maka kamu akan membenarkan aku pergi?”

Dan dia meninggalkan seluruh hartanya. Saya ulang, dia meninggalkan seluruh hartanya.

Untuk apa?

Untuk hijrahnya kepada Allah SWT, untuk menyelamatkan keimanannya. Dia sanggup mengorbankan seluruh hartanya. Kerna dia jelas, dia berhijrah ke arah Allah SWT Yang Maha Kaya, Yang Berkuasa Atas Segala-galanya.

Abdurrahman bin Auf, seorang lagi hartawan terkenal. Dia awal-awal lagi bergerak keluar dari Makkah dengan sehelai sepinggang. Langsung tidak membawa hartanya. Sehingga di Madinah terpaksa memulakan perniagaannya daripada aras bawah semula. Begitu juga hartawan lain seperti Abu Bakar, Uthman dan lain-lain yang mengikuti Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sendiri bersabung nyawa di dalam peristiwa hijrah ini. Begitu juga Saidina Ali bin Abu Talib RA yang sanggup menggantikan Rasulullah SAW di kamar baginda.

Pernahkah anda tertanya-tanya, atas dasar apakah mereka sanggup berkorban sedemikian rupa?

Kerana mereka benar-benar jelas akan penghijrahan mereka.


Mereka berhijrah kepada Allah SWT.

Keimanan mereka, keyakinan mereka membuatkan mereka sanggup mengorbankan segalanya, asalkan penghijrahan mereka kepada Allah SWT itu berjalan lancar.

“Bahawa sesungguhnya setiap amalan itu bergantung kepada niat, dan bahawa sesungguhnya bagi setiap orang apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya menuju kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Barangsiapa yang hijrahnya kerana dunia yang dia mahu mencari habuannya, atau kerana seorang perempuan yang dia mahu kahwininya, maka hijrahnya ke arah perkara yang ditujuinya itu.” Riwayat Bukhari dan Muslim.

Maka, apakah yang telah kita korbankan, andai benar penghijrahan kita kepada Allah SWT?

Atau sebenarnya, hijrah kita bukannya kepada Allah SWT, sebab itu kita tidak mengorbankan apa-apa? Sebab itulah kita tidak merancang apa-apa?

Jika benar, maka kita ini tidak berhijrah sebenarnya.



Penutup: Tiada Lagi Hijrah Selepas Itu, Selain Perjuangan Ke Arah Kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda pada hari pembukaan kota Makkah:

“Tiada lagi Hijrah selepas pembukaan ini kecuali kerana jihad dan niat yang baik, dan sekiranya diperintahkan supaya keluar untuk berjihad dan melaksanakan kebaikan, maka keluarlah” Riwayat Bukhari.

Maka bergeraklah kepada kebaikan, jangan lengah. Bergerak dengan sistematik tanpa boncah. Keraskanlah diri menghadapi segala ujian agar tidak tergoncang. Korbankan apa yang patut dikorbankan, kaut apa yang patut dikaut.

Kenapa kita mesti redha dengan diri kita penuh dosa hari ini? Kenapa kita mesti rasa tidak mengapa dengan kelemahan kita hari ini? Kenapa kita mesti tunduk pada kezaliman dan kehinaan dunia kepada kita hari ini?

Maka bangkitlah, ubah segalanya, bermula dengan diri sendiri.

Jangan sekali mengungkap berubah itu, berubah ini, meningkat itu, meningkat ini, dengan kalam-kalam kosong tanpa perancangan. Kita tidak mahu bermain-main, kita bukan hamba tradisi. Kita hamba Ilahi.

Bergeraklah. Bergerak dengan serius.

Berhijrahlah, berhijrah dengan perancangan dan usaha yang tulus.


27 December 2009

Berapa lama anda mampu hafaz 30 juzu'???

Kita mampu untuk menghabiskan hafalan Al Quran secara keseluruhan(dengan izin Allah s.w.t). Tempoh masa untuk menghabiskan hafalan 30 juzu' Al Quran bergantung kepada kadar kemampuan seseorang menghafal beberapa jumlah ayat sehari sebagaimana jadual berikut :


"Sesungguhnya Kami(Allah) menurunkan peringatan(Al Quran) dan pasti Kami melindunginya(daripada kepalsuan)" Surah al Hijr : 9

"Sebaik-baik kamu adalah mereka yang belajar Al Quran dan mengajarkannya" - Hadia riwayat Imam Bukhari.

"Bacalah Al Quran, sesungguh ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat kepada pembacanya" - Hadis riwayat Imam Muslim.

"Sesungguhnya orang yang tidak terdapat dalam rongga badannya sesuatu daripada Al Quran adalah seperti rumah yang roboh" - Hadis riwayat Imam Tarmizi.

Budaya Membaca Orang Islam Lapuk??

Ungkapan “membaca jambatan ilmu” sering kita dengar. Perkataan ‘iqra’ yang bermaksud bacalah merupakan perkara sinonim dalam diri kita sebagai umat Islam. Namun, hakikatnya sejauh mana kita menghayati perkara ini.

Mengimbau kembali sejarah silam kita akan mendapati bahawa Islam telah mencapai zaman kegemilangannya hasil daripada perkembangan pesat dalam bidang keilmuan. Perkembangan pesat wujud akibat semangat suka membaca dan cintakan ilmu dalam diri umat Islam pada zaman itu sehingga lahir ramai ulama’ yang pakar dalam bidang agama, sains, dan teknologi dan natijahnya umat Islam pada masa itu dipandang tinggi dan digeruni oleh umat-umat lain di dunia.

Marcapada, umat Islam pada zaman ini jelas berbeza dengan umat Islam pada masa dahulu. Kita pada masa ini dianggap sebagai umat yang paling hina dan boleh diperlakukan sesuka hati oleh orang kafir selain kita dipaksa mengikut telunjuk mereka dalam segala bidang tidak kira politik, sosial , dan ekonomi yang memang jelas bertentangan dengan syariat Islamiyyah.

Secara peribadinya saya berpendapat bahawa situasi ini berlaku disebabkan sikap individu muslim sendiri yang semakin jauh daripada amalan membaca dan ilmu pengetahuan. Kita lihat sendiri fenomena di negara kita di mana orang Melayu Islam khususnya tidak suka atau jarang sekali membaca sehinggakan terpaksa diadakan kempen untuk menggalakkan kita membaca. Kempen ini tidaklah salah tetapi berdasarkan pengalaman saya di England dahulu, tidak pernah wujud kempen membaca kerana rakyat di sana boleh dikatakan membaca buku hampir setiap hari manakala kita di sini ada yang hanya membaca sekali dalam sebulan (tidak termasuk buku akademik).

Kanak-kanak di sana memang telah dididik sejak kecil untuk membaca di mana perpustakaan awam disediakan oleh kerajaan di merata tempat dan mereka digalakkan meminjam sebanyak 14 buah buku seorang untuk tempoh seminggu.

Selain itu, di sekolah pula para pelajar diwajibkan untuk membuat laporan tentang sebuah buku yang dibaca setiap minggu. Program-program ini bukan hanya berlaku di sesetengah tempat sahaja tetapi di seluruh negara kerana saya berkesempatan untuk tinggal di beberapa tempat yang berbeza ketika di sana dan mendapati terdapat persamaan tentang budaya membaca rakyat di sana yang memang umum diketahui majoritinya adalah Kristian.

Satu perkara lagi, membaca merupakan amalan orang Barat di mana ibu bapa akan membacakan sebuah buku untuk anak mereka sebelum tidur. Perkara di atas saya kira berlainan dengan budaya membaca di negara-negara Islam khususnya Malaysia.


Jelaslah umat Islam di dunia memang jauh ketinggalan berbanding Barat berkaitan semangat membaca. Tidak hairanlah sekarang ini kita dijajah oleh mereka dan kita tidak mampu berbuat apa-apa disebabkan semangat suka membaca pada masa ini wujud dalam diri mereka dan telah hilang dalam diri kita, umat Islam.

Saya ingin menyeru kepada umat Islam sekalian agar mengingati kembali wahyu pertama yang diturunkan kepada nabi Muhammad iaitu ‘bacalah’. Sedar atau tidak budaya membaca memang telah lama diamalkan oleh kita iaitu amalan membaca al-Quran tetapi janganlah kita hanya sekadar membacanya tetapi tidak memahaminya dan terus menyebabkan kita semakin ke belakang. Sesungguhnya jika kita benar-benar menghayati bacaan al-Quran kita, saya yakin kita mampu mengembalikan zaman keagungan tamadun Islam yang terkenal pada masa dahulu.

26 December 2009

tudung labuh...

Izinkan diri ini untuk meluahkan kata-kata, Bukan kata-kata kesat, Bukan kata sindirian, Bukan kata kosong.

Perkara ini nampak seperti hal yang remeh, tetapi bagi ana ini merupakan sesuatu yang amat mendalam dan agak menikam kalbu.. Apabila diutarakan mengenai tudung labuh, walaupun bukan tudung bulat pun, apabila tudung itu sudah lebih besar daripada orang lain, pastinya persepsi masyarakat akan turut berubah seiring dengan perubahan tudung tersebut.



Mengapa persoalan ini diutarakan? Apa selalunya yang terlintas dalam diri masing-masing apabila melihat seorang perempuan memakai baju kurung berserta dengan tudung yang lebih labuh daripada perempuan-perempuan yang lain? Pastinya tanggapan pertama ialah; perempuan ini perempuan yang baik, perempuan yang sopan, perempuan yang tahu menjaga adab dirinya.

Namun adakah kita sedar, dalam majoriti kaum wanita yang dikatakan bertudung labuh yang nampaknya sopan itu, terdapat sebilangan kecil daripada mereka ini yang sebenarnya sedang menconteng arang ke muka wanita-wanita yang lain.

Mengapa ana berkata begini? Tentu saja anda semua pernah dengar perkataan ini, “Alah tak payahlah nak poyo-poyo pakai tudung labuh. Ingat semua orang yang tudung labuh ni baik sangat ke? Kadang-kadang yang tudung labuh ni lagi teruk daripada tudung kecil!” pasti pernahkan? Bagi yang baru pertama kali mendengarnya, pasti hati berasa panas sahaja mendengar perkataan sebegitu yang diluahkan. Namun, itulah hakikat.

Kebanyakkan wanita sekarang ini, maaf untuk menegur, tidak berakhlak seperti yang tertera pada pakaiannya yang labuh. Berdating sana sini, bermesejan lelaki itu ini, berhuha-huha dengan lelaki ajnabi, berkoling-koling, berkapelan islamik kononnya, cakap buang masa, menggedik sana sini(maaf kalau ada yang terasa) dan banyak lagi yang mana akhlak tersebut langsung tidak kena pada imej wanita muslimah yang ditonjolkan.

Apabila orang kata tudung labuh pun sama teruk juga, cepat saja naik darah. Sedangkan siapa yang menyebabkan orang lain berfikiran seperti itu? Apabila timbul masalah seperti ini, pastinya orang lain yang mahu bertudung labuh terbantut niatnya melihatkan akhlak wanita bertudung labuh yang lain ini. Kerana nila setitik, rosak susu sebelanga.




Akhirnya timbullah perkataan seperti, “ Aku tak pakai tudung labuh pun, free hair je kot, tapi aku tak adalah macam si polan tudung labuh tu. Harap tudung tu je yang besar, akhlak tak besar pun,”

Ya, memang diakui,yang bertudung labuh juga adalah manusia biasa yang punya keinginan. Tapi bukankah elok jika cara pemakaian kita seiring dengan tudung yang dipakai? Tutup aurat itu merupakan satu kewajipan,menjaga akhlak juga satu kewajipan bagi kita. Mengapa hanya diambil satu perkara sahaja, dan ditinggalkan satu perkara lagi?

sumber : www.iluvislam.com

20 December 2009

SUBMISSION....filem menghina ISLAM




Submission ialah sebuah dokumentari pendek yang dihasilkan oleh seorang 'bekas' muslimah, Ayaan Hirsi Ali dan pengarah Theo van Gogh mengenai layanan buruk islam terhadap wanita.
filem ini menunjukkan wanita yang diseksa, dengan beberapa ayat Al-Quran tertulis pada kulit badan mereka yang mengesahkan mereka diseksa dengan zalim.


++info filem submission++
Edaran : iFILM
Arahan : Theo van Gogh
Skrip : Ayaan Hirsi Ali
Tempoh tayangan : 10 minit
Tahun edaran : 2004
Bahasa : Inggeris
Subtitle : Belanda

Karektor-karektor dalam Submission

Narrator
>Tukang cerita dalam filem ini
>Berpurdah dan berjubah nipis yang menampakkan tubuh badan seolah-olah bogel
>Di perutnya tertulis Al-Fatihah
>Memulakan dan mengakhiri filem dengan sembahyang(dalam keadaan bogel itu)
>Menceritakan kisah 4 orang wanita yang meminta agar Tuhan meringankan penderitaan mereka.

Wanita 1
>Melakukan zina dengan kekasih
>Disebat seratus kali
>Di seluruh badan tertulis ayat Quran larangan zina dan hukumannya

Wanita 2
>Dipaksa berkahwin dengan lelaki yang tidak disukai
>Bergaun pengantin dan tertulis di belakang badannya ayat mengenai wajib mentaati suami dalam apa jua keadaan.

Wanita 3
>Dipukul berulang kali oleh suami
>Lebam dan luka seluruh badan.
>Tertulis ayat mengenai keutamaan lelaki sebagai pelindung wanita.

Wanita 4
>Sentiasa menjaga aurat setiap masa dan mentaati ajaran Islam dengan baik.
>Tetapi dirogol oleh bapa saudara sehingga mengandung.
>Tertulis di atas jubah ayat mengenai tatacara pergaulan sesama saudara dalam Islam.

19 December 2009

Belajar Tanpa Guru Umpama Belajar Dengan Syaitan?

Petikan dari blog Al-Fadhil Ustaz Syed Abdul Kadir Al-Jufri (Pengerusi Fellow MANHAL PMRAM)
Berikut adalah satu persoalan di iluvislam.com:

Assalamualaikum, saya nak tanya. Pak cik saya ada kata ada hadis yang menyatakan belajar tanpa bimbingan guru umpama belajar bersama dengan syaitan. Apa pendapat anda? Saya tak pasti akan kesahihannya dan saya rasa sahih kerana pak cik saya seorang ustaz.

Namun, mungkin ia ada maksud disebaliknya.Minta penjelasan. Terima kasih.

Berikut adalah jawapan saya pula:

Pertamanya menjawab persoalan yang ditimbulkan di awal thread ini. Adakah benar hadis belajar tanpa guru adalah berguru dengan syaitan? Ana katakan, ana tidak pernah menjumpai matan hadis sedemikian dalam kitab-kitab hadis yang muktabar. Ana katakan "tak pernah jumpa", bukan ana katakan ia palsu tau.

Namun begitu para ulamak biasa menyebut kalam ini di dalam kitab-kitab mereka. Ingat satu perkara yang mesti kita iktiqad, ulamak agung silam takkan dengan sengaja menulis sesuatu mengikut hawa nafsu dan meletakkan sesuatu yang mereka anggap salah. Mereka tentu beranggapan kalam tersebut adalah benar. Hormatilah ulamak dan jangan bersikap kurang ajar dengan mereka.

Lebih-lebih lagi dengan kalam yang lebih sahih iaitu "sesungguhnya ilmu itu didapati dengan dipelajari." Imam Syafie pula pernah menyatakan, "sesiapa yang tafaqquh dari perut kitab, maka dia telah kehilangan hukum-hakam". Para ulamak juga menyebutkan, "antara kebodohan terbesar, adalah menjadikan helaian-helaian sebagai syaikh".

Walaupun kenyataan belajar dengan syaitan itu, tidak didapati sahih dari segi sanadnya (jalur riwayat), tapi ia sahih dari segi maknanya (bagi mereka yang melihat dengan hati yang cerah dan bersikap terbuka).

Ia adalah suatu perumpamaan daripada para ulamak untuk memberi peringatan kepada mereka yang suka menjadikan bahan bacaannya sebagai ilmunya. Jangan difahami secara zahir plak ya. Perlu diingat, buku adalah alat sahaja untuk menimba ilmu. Untuk menggunakan alat, perlu kepada yang pakar untuk menunjuk caranya.

Kita lihat hari ini, salah faham terhadap agama, kebanyakannya berasal daripada golongan yang suka membaca tanpa guru, lantas memahami dengan salah dan menyesatkan pula kefahaman orang lain. Lihat sahajalah ajaran-ajaran sesat yang timbul sekarang, kebanyakannya adalah intepratasi dari kitab-kitab yang sahih. Bukankah ini adalah bukti yang cukup jelas betapa syaitan menyesatkan manusia yang membaca dan belajar tanpa berguru?

Buku yang kandungannya penuh dengan Ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis yang kuat pun, boleh disalah fahami lantas menatijahkan kesesatan kepada pembacanya. Oleh kerana itu ulamak zaman berzaman sentiasa menasihati kita agar berjaga-jaga dalam pembacaan buku. Orang yang belajar dengan berguru pun boleh sesat, apatah lagi orang yang tidak belajar dengan guru kan?

Akan tetapi, bukanlah kita menutup terus pintu bacaan kepada Ummat Islam. Malah Ummat Islam sepatutnya menjadi ummat yang paling rajin membaca. Hanyasanya, bacalah buku mengikut tahap kemampuan masing-masing. Kita akan merasa lucu, jika seorang pelajar fizik sekolah menengah, membaca dan membahaskan teori fizik yang ditulis oleh seorang profesor untuk dibahaskan oleh profesor-profesor lain.

Di dalam ilmu agama juga begitu. Tiada masalah untuk kita semua membaca kitab-kitab motivasi agama, sirah para rasul dan sahabat, galakan beribadat dan ancaman terhadap kemaksiatan, dan sebagainya. Namun di sana, ada kitab-kitab yang memerlukan kepada guru yang membimbing. Ada juga yang memerlukan kita membaca, kemudian bertanya kepada guru. Ada juga buku yang boleh dibaca oleh mereka yang sudah mencapai ke tahap pembelajaran yang tertentu. Hukum tak boleh diambil sekadar membaca. Aqidah jauh sekali.

Ini bermakna, memang membaca tanpa berguru itu banyak membawa kesesatan yang disemarakkan lagi oleh syaitan. Namun Islam tetap menggalakkan sikap suka membaca. Islam juga mengajarkan kepada kita adab-adab membaca, cara membaca, apa yang hendak dan boleh dibaca, bila hendak dibaca dan sebagainya, bagi mengelakkan kita menjadi bahan tawa syaitan yang direjam.

Mungkin ada yang menyatakan, saya akan ambil yang benar, dan saya akan tinggalkan mana yang saya ragui. Saya akan ambil mana yang bersumberkan Al-quran dan hadis sahaja. Kita katakan, oleh kerana kita ini masih lagi di tahap "orang awam" dan "pelajar" maka kita sukar untuk membezakan mana yang benar mana yang salah. Takut-takut yang salah itu dikaburi dengan Alquran dan Hadis, lantas kita anggap benar. Maka jadilah kita orang yang sesat dan menyesatkan. Na'uzubillah.

Berkenaan bidang ilmu, dan tulisan seorang yang bukan ahli, dakwah dari seorang businessman dan sebagainya, telah ana tulis di blog lama ana tiga tahun lalu. Rajin-rajinkanlah membaca link di bawah ya:

Bhgn. 1: http://aljoofre.blogdrive.com/archive/87.html
Bhgn. 2: http://aljoofre.blogdrive.com/archive/88.html

Wallahu A'lam.

Sumber: www.aljoofre.iluvislam.com